Khalifah Tour

Chefchaouen, Permata Biru Maroko

Chefchaouen, Permata Biru Maroko

29-11-2019 06:39 Site Admin
Chefchaouen merupakan kota yang terletak di Barat laut Maroko dan menjadi ibu kota bagi Provinsi Chefchaouen. Kota ini didirikan pada 1471 sebagai kasbah (benteng) oleh Moulay Ali ibn Rashid al-Alami, keturunan dari Abd as-Salam al-Alami dan Idris I, dan lewat jalur mereka, merupakan keturunan Nabi Muhammad. Al-Alami mendirikan kota ini sebagai benteng untuk melawan invasi Portugis ke Maroko Utara bersama suku Ghomara yang berasal dari wilayah itu, orang Morisco dan Yahudi menetap di kota ini setelah Reconquista di masa abad pertengahan. Pada 1920, Spanyol merebut Chefchaouen untuk menjadi bagian Maroko Spanyol. Tentara spanyol memenjarakan Muhammad Ibn ‘Abd al-Karim al-Khattabi, saat itu merupakan pemimpin pasukan tentara Rif, di Kasbah dari 1916 sampai 1917, setelah pembicaraannya dengan Konsul Jerman Dr. Walter Zechlin. Abd al-Karim kemudian dideportasi ke Reunion pada 1926 setelah dikalahkan dengan bantuan Perancis. Pada tahun 1956 spanyol mengembalikan kota tersebut setelah kemerdekaan Maroko.

Chaouen, sebutan umumnya bagi orang Maroko, merupakan destinasi wisata populer karena lokasinya yang berada di dekat Tangier dan Ceuta di wilayah Spanyol. Ada sekitar dua ratus hotel yang melayani turis-turis Eropa ketika musim panas tiba. Satu keunikan yang dimiliki Chefchaouen adalah rumah-rumah, bangunan-bangunan, dan jalanan yang di cat dengan warna biru. Hal itu yang membuat Chefchaouen dijuluki permata biru. Banyak teori yang mengatakan tentang alasan dibalik penggunaan warna biru tersebut. Pertama, penggunaan warna biru sebagai bentuk refleksi dari langit Maroko yang jarang memiliki awan. Kedua, merupakan simbol dari kehidupan spiritual bangsa Maroko dan kekuatan Tuhan. Ketiga, warna biru diperkenalkan oleh bangsa Yahudi yang melarikan diri dari Hitler pada 1930-an. Keempat, menurut warga penggunaan warna biru sangat ampuh untuk mengusir nyamuk. Kelima, warga mendapat perintah untuk mengecat bangunan dengan warna biru pada tahun 1970-an dengan maksud menarik minat turis datang berwisata.

Banyak hal yang bisa dinikmati dan dilakukan di Chaouen. Berburu cinderamata atau barang-barang khas Chaouen, menikmati beragam kuliner lokal, berswafoto, atau berwisata ke tempat-tempat sekitar Chaouen. Namun, satu hal yang harus kita ketahui, Chaouen merupakan kota utama penghasil kief, sejenis kanabis (ganja) di Maroko. Mengisap ganja memang bukan tren di Maroko, tapi merupakan tradisi lama. Festival ganja bernama Bombola Ganja juga berlangsung di Ketama setiap tahunnya. Pemerintah Maroko memang melarang penggunaan dan jual beli ganja, namun tetap saja peraturan tersebut tidak membuat para petani berhenti menanaminya. Salah satu alasannya karna peminat kief masih sangat tinggi. Setiap tahunnya, ribuan turis datang ke Ketama atau Chaouen. Sebagian besar berasal dari Eropa, meskipun ada juga yang datang dari kawasan lain di Maroko. Terdapat pula tour keliling kebun kief yang bisa didapat melalui informasi pengelola hotel, meskipun mereka tidak mencantumkan informasi tersebut di brosur promosi. Kegiatan tour tersebut seperti mengunjungi ladang kief dan melihat produksi kief yang berada di sebuah desa. Peserta tour pun dapat membeli kief tersebut yang dapat dinikmati di hotel.