Khalifah Tour

Luruskan Niat Haji

Luruskan Niat Haji

16-01-2018 04:00 Site Admin
TAK lama lagi jemaah calon haji Indonesia akan diberangkatkan ke tanah suci tepatnya pada minggu kedua Agustus untuk haji reguler. Jemaah calon haji terlebih dulu harus meluruskan niatnya sebelum berangkat haji. Hal itu disebabkan niat haji dan umrah bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan yang terdalam dari hati nuraninya.

Menjelang berangkat ke tanah suci, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri: niat apakah yang melandasi kepergian kita berhaji? Realitasnya, ternyata sangat beragam. Mulai dari yang berhaji karena ‘tidak sengaja’ sebab diajak saudara, penugasan kerja, ingin dapat predikat haji dan penghargaan masyarakat, sampai kepada yang memang ingin beribadah menyempurnakan kualitas jiwanya di sana.

Niat yang berbeda-beda tidak ada yang melarang. Tetapi, ternyata Allah mengajarkan di dalam Alquran agar kita meluruskan niat dalam menjalani ibadah ini. Hal itu disebabkan beragamnya niat orang-orang yang datang dari segala penjuru bumi itu. “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh(mu) karena Allah semata” (QS. Al Baqarah: 196). "Kata ‘menyempurnakan’ dalam ayat itu mengindikasikan adanya berbagai macam niat dalam beribadah haji maupun umrah.

Termasuk niat beribadah haji untuk sambil berdagang atau bekerja yang memang diperbolehkan oleh Allah, sebagaimana diinformasikan dalam ayat-ayat sesudahnya. Tetapi, ketika ritual haji sudah dimulai, semuanya harus meluruskan niat untuk hanya beribadah kepada Allah semata dengan banyak berzikir mengingat Allah.

Bahkan anjuran untuk menyempurnakan niat itu berlaku juga bagi mereka yang meniatkan ibadah, tetapi belum sempurna karena Allah. Misalnya, ingin berhaji atau umrah karena ingin berdoa agar masalahnya selesai. Ada juga yang berniat agar rumah tangganya bisa adem ayem atau niat-niat lain yang baik, namun belum sepenuhnya karena Allah.

Jika kita tidak menyadari niat yang kurang lurus itu,  maka bisa menjebak ke dalam praktik ibadah yang bukan karena Allah semata. Tetapi, dikarenakan rezeki dan lulus ujian. Ibadah hanya karena Allah (lillaahi taala), sedangkan  setelah itu kita menjadi dekat dengan Allah dan segala macam masalah hidup teratasi dengan baik adalah ‘bonus’ dari perilaku yang benar di jalan Allah.

Niat beribadah haji harus ikhlas karena Allah semata. Cara menyempurnakan ada beberapa cara. Pertama,   meyakini bahwa ibadah haji adalah rukun Islam sehingga menjadi suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang Muslim. Kewajiban ini juga merupakan panggilan Allah, karenanya respons nya adalah “labaika allahumma labaika” (ya Allah kami dengar panggilan-Mu).

Kedua,  meyakini bahwa tidak semua Muslim dapat melaksanakan ibadah haji. Kita yang sudah siap untuk berhaji merupakan pilihan Allah. Kesadaran bahwa diri dipilih itu penting karena akan ada jiwa bersyukur dan selalu mengembalikan urusan kepada Allah. Betapa panjang daftar tunggu haji yang kini sudah di atas 10 tahun untuk haji reguler sehingga wajib lah kita bersyukur sebagai orang yang terpilih untuk berangkat haji tahun ini.

Ketiga,  berlindung kepada Allah jika terlintas dalam pikiran kita niat-niat yang membelokkan dari “Lillah” (karena Allah). Ucapkanlah “A’uudzu billahi minasy syaithoonir rojiim”(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Keempat, banyak mendengarkan tausiyah atau ceramah berkaitan dengan haji untuk mengingatkan pentingnya niat karena Allah. Demikian juga bergaulah dengan lingkungan yang giat ibadah karena lingkungan dapat membantu meluruskan dan memantapkan niat pula.

Dengan niat berhaji karena Allah membuat ibadah terasa ringan meskipun tak sedikit larangan yang harus dipatuhi jemaah haji. Larangan itu bila dilakukan bisa membuat hajinya tak sah atau batal sehingga harus diulang maupun larangan yang menimbulkan denda atau dam bagi pelanggarnya. Di antara larangan dalam beribadah haji adalah bagi setiap laki-laki tidak boleh memakai pakaian yang ada jahitannya dan tidak boleh menutup kepala.

Bahkan, larangan dalam haji bersifat kecil dan mendetail seperti tak boleh memotong kuku dan rambut atau bulu badan, memotong atau mencabut tanaman di tanah Haram, atau mencaci maki atau mengucapkan kata-kata kotor. Untuk menghindari dari berkata-kata yang kotor alangkah baiknya bila jemaah memperbanyak zikir baik dalam hati maupun dengan diucapkan Sehingga walau dalam kondisi emosi karena hawa panas dan berdesak-desakan saat tawaf, maka yang terucap adalah kalimat-kalimat istighfar dan zikrullah.

Selamat mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah haji. Semoga bisa menjalankan ibadah haji dengan lancar dan sesuai contoh Rasulullah sehingga memperoleh haji yang makbul dan mabrur.***

OLEH RUSTAM SUMARNA,
Penulis, Direktur Biro Perjalanan Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour